DASAR-DASAR ILMU FILSAFAT MORAL ETIKA TRANSENDENTAL KESUSILAAN DALAM TEORI DAN PRAKTEK MORALITAS

Sekian jauh kita telah melihat bhwa tujuan akhir manusia adalah kebahagian sempurna dalam memiliki tuhan kecuali itu juga telah kita ketahui bahwaadedidikirawan kearah tujuan tadi adalah perbuatan manusiawi yakni perbuatan manusia yang sukarela sekarang pertanyaan yang kita hadapi adalah menghubungkan dijalan ke tujuan Dapatkah setiap macam perbuatan membawa kita kita keadaan tujuan akhir kita bila kita menjawab ia berarti bahwa tidaklah terdapat perbedaan antara hal yang benar dan hal yang salah selanjutnya tidak terdapat ilmu filsafat moral tidak terdapat etika seperti kita katakan etika mendasarkan dirinya pada fakta pengalaman yakni keputusan tentang hal yang benar dan yang salah keyakinana yang dimiliki manusia bahwa beberapa perbuatan adalah dan sepantasnya dikerjakan bahwa ada perbuatan yang salah dan sepantasnya tidak dikerjakan bahwa terdapat perbuatan yang indefeerent yang boleh dijalankan atau tidak dijalankan fakta ini menyatakan bahwa manusia memutuskan bahwa terdapat macam perbuatan yang slah dan tidak akan membawa kita kearah tujuan terakhhir dan bahwa terdapat macam perbuatan benat yang sesungguhnya akan membawa kkita kearah tujuan terakhir tersebut demikian jauh kita hanya memakai saja fakta-fakta tersebut apabila berkata bahwa kebijaksanaan tuhan dan derajat manusia menuntut supaya manusiaadedidikirawan membimbing dirinnya sendiri kearah tujuan akhirnya dengan dengan memakai kehendak bebasnya kita juga merangkum dalam pernyataan kita tadi bahwa sanya terdapat kemungkinan memilih antara hal-hal yang akan membawa manusia kearah tujuannya adedidikirawan dan hal-hal yang tidak akan membawa manusia kearah tujuannya dan hal-hal yang tidak akan membawa arah tujauannya sebab apabila semua jalan akan membawa kita ketujuan yang sama agaknya jelas tidak diperlukan adanya pimpinan atau pemilihan Pembicaraan mengenai kesukarelaan dan kemerdekaan lebih-lebih mengnai prinsip akibat rangkap (the principle of double effeot) adalah berdasarkan pengalaman sehari-hari bahwa konsekuenssi atau akibat buruk atau jahat dapat terbit dari perbuatan manusiawi sering manusia bertanggung jawab atas perbuatan hal-hal yang buruk tersebut sekarang saatnya kita membuktikan semuanya itu apakah keyakinan umum umat manusia yang berkata bahwa ada perbuatan yang benar dan salah itu suatu yang benar mengapa terdapat perbuatan yang dianggap benar dan terdapat perbuatan yang dianggap salah apakah gerangan nilai-nilai alasan –alasan yang diberikan inilah apa yang disebut problm moralitas ARTI MORALITAS Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia dengan mana berkata bahwa perbuatan itu benar atau salah baik atau buruk moralitas mencakup pengertian tentang bai buruknya perbuatan manusia kata a-moral non-moral berarti bahwa tidak mempunyai hubungan dengan moral tidak mempunyai arti moral istilah imoril artinya moril buruk moralitas objektif memandang perbuatan semata sebagai sesuatu perbuatan yang telah dikerjakan bebas lepas dari pengaruh sukarela pihak pelaku lepas dari segala keadaan-keadaan khusus si pelaku yang dapat mempengaruhi atau mengurangi penguasaan diri dan bertanya adakah orang yang sepenuhnya menguasai dirinya dijadikan dengan suka rela menghendaki macam perbuatan tersebut moralitas subjektif adalah moralitas yang memandang perbuatan sebagai perbuatan yang dipengaruhi pengrtian dan persetujuan sipelaku sebagai individu adedidikirawanpula dipengaruhi dikondisionir oleh lataar belakangnya pendidikannya kemantapan emosinya dan sifat-sifat pribadi lainnya yang ditancapkan emosinya dan sifat-sifat pribadi lainnya yang dicanangkan adakah perbuatan tersebut sesuaiadedidikirawan atau tidak sesuai dengan hati nuraninya (conscience) sendiri dari pelaku disini kita tidak perbincangkan adakah moralitas itu subjektif ada. Karena ini adalah suatu fakta pengalaman bahwa hati nurani mnyetujui atau tidak menyetujui apa yang dikerjakan seluruh persoalannya marilah ditunda sampai saatnya membicarakan tentang hati nurani persoalan yang dihadapi kini hanya tentang moralitas objektif apakah hakekat dari perbuatan-perbatab adedidikirawanitu sendiri adakah perbuatan-perbuatan tersebut telahmemiliki kuwalitas moral sifat benar salah yang hakiki sendiri ataukah buatan-buatan tersebut mempunyai arti moril karena sebab-sebAb ekstrinsiik karena sebab-sebab dari luar Moralitas dapat intrinsik ATAU ekstrinsik pembagian diatas tadi moralitas instrinsik memandang perbuatan menurut hakekatnya bebas lepas dari setiap bentuk hukum positif yang dipandang axdalah adakah perbuatan baik atau buruk hakekatnya bukan adakah seseorang telah memerintahkannya atau telah melarangnya moralitas ekstrinsik adalah moralitas yang memandang perbuatan sebagai sesatu yang diperintahkan atau dilarang oleh seseorang yang kuasa atau oleh hukum positif baik dari manusia asalnya maupun dari tuhan Bahwa sanyaa terdapat moralitas ekstirinsik semua orang bisa setuju karena tidak ada orang menolak kenyataan bahwa hukum-hukum positif bagaimanapun nilai sahnya adalah benar-benar ada seperti umpamanya adedidikirawanhukum negara atau hukkum yang tak tertulis atau hukum adat jadi disini kita tidak mengadakan pemilihan antara moralitas intrisnik dan moralitas ekstrinsik disini kita bertanya disamping moralitas ekstrinsik adakah juga terdapaat moralitas intrinsik atau juaga pertanyaan itu diperintahkian atau dilarang karena perbuatan tersebut pada hakekatnya benar atau salah adakah moralitas kodrat ataukah perbuatan tersebut padaa hakekatnya benar atau salah karena diperintahkan atau dilarang adakah semua moralitas situ sekedar sesuatu yang konvensional Teori yang mengatakan bahwa semua bentuk moralitas itu ditentukan oleh konvensi bahwa semua bentuk moralitas itu adalah resultan dari kehendak seseorang yang dengan semau-maunya memerintahkan atau melarang perbuatan-perbuatan tertentu tanpa medasarkan pada sesuatau yang intirinsik dalam perbuatan manusia sendiri atau pada hakekat manusia dikenai sebagai aliran positivisme moril disebut begitu karena menurut aliran tersebut semua moralitas bertumpu pada hukum positif sebagai lawan hukum kodrat (natural law) menurut teori tersebut perbuatan dianggap benar atau salah berdasar : 1.       Kebiasaan manusia 2.       Hukum-hukum negara 3.       Pemilihan bebas tuhan  Teori yang berkata bahwa moralitas itu sekedar kebiasaan sja sudah lama tersebar yakni sejak jaman paraadedidikirawan sophist dan kaum skeptik dijaman yunani kuno ada yang mengira bahwa moralitas itu dipaksakan oleh orang –orang pandai dan berpengaruh untuk menundukan rakyat biasa oleh tekanan dan pendapat umum dan tradisi orang biasa menerima hukum moral dan mau memakai rantai belenggu juga telah dibuatkan untuknya dan hanya beberapa pemberani berani berjuang dan dapat merdeka inilah filsafat adedidikirawandari dunia pemberontakan dalam bidang moril mandeville dalam bukunya enquiry into the origin of moral virtue menyocokan gagasan tersebut pikiran friedrich nietszche tidak jauh berbeda menurut dia pada permulaan yidak ada hal yang baik dan yang buruk yang ada hanya yang kuat dan yang lemah yang seperti perempuan juga sabar ramah tamah lembut yang lemah takut pada yang kuat masing-masing golongan memuja sifatnya masing-masing dan menghukum golongan lain demikian munculah perbedaan antara moralitas bendoro dan moralitas budak oleh karena jumlahnya besar dan kena pengaruh agama katolik moralitas budak menang iini merupakan bencana bagi rakyat tidak terhitung adalah tugasnya masyarakat untuk menimbulkan golongan aristrokat para ubermensch yang akan mengembalikan sifat –sifat kejahatan dan mengembalikan moralitas bendoro ubermensch itu mengatasi segalanya yang baik dan buruk ia adalah merupakan suatu hukum tersendiri hukum bagi dirinya sendiri Para hukum evolusionis modern seperti herbert sepencer umpamanya mencari jejak permulaan pertama gagasan –gagasan moril pada binatang sebagaimana manusia berkembang dari hewan demikian juga gagasan –gagasan moril tentu mengalami perkembangan evolusi yang sama cara berbuat yang dianggap berguna berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan suku-suku primitif bersama dengan majunya peradaban semakin disaringadedidikirawan lah dan menjadi sistem morilyang kita miliki sekarang oleh karena proses evolusi belum berhenti maka sistim tersebut masih bisa menjadi sistem yang lebih tinggi Aguste comte pendiri aliran positivisme memandang etika sebagai bagian sosiologi yang dianggap sebagai ilmu tertinggi kebiasaan moril itu muncul dari kebiasaan sosial dan terus menerus berubah bersama dengan perbuatan-perbuatan juga terdapat dalam masyarakat jadi semacam relativisme etika friedrich paulsen yang tidak dapat golongkan sebagai seorang postivist menegaskan bahwa pada konkritnya tidak terdapat moralitas yang universal sifatnya hukum moral (moral code) itu berbeda bagi setiap orang setiap filsafat moral itu hanya saja bagi suasana peradaban dimana filsafat moral tadi muncull karl marx dan engels beserta semua pengikutnya memegang konsepsi materialis tentang sejarah menegaskan bahwa gagasan-gagasan moral politik seni sosial dan filsafat ditentukan oleh keadaan ekonomi masyarakat setiap saat setiap rakyat dan setiap kelas membentuk gagasannya sendiri untuk menserasikan dengan situasi ekonoomi yang khusus menurut anggapan komunis perubahan ekonomi adedidikirawanharus dilaksanakan denbgan jatuhnya kapitalisme dan pada saat ini akan dibutuuhkan bentuk moralitas yang baru yang harus menggantikakn moralitas borjius sekianlah beberapa contoh dari teori yang menolak adanya moralitas intirinsik mereka tidak menerima bahwa perbedaan antara baik dan buruk yang dibuat manusia umumnya itu didasarkan pada hakekat barang-barang untuk lebih mendekati pandangan tersebut marilah kita menyelidiki apakah itu adat adat itu munculnya karena perbuatan yang sama yang diulang dengan cara yang sama mengapa perbuatan diulang karena pada permulaan kalinya menjalankan perbuatan tersebut mereka menemukan bahwa perbuatan tersebut menyenangkanatau berguna dan mereka menghendaki hal tersebut kembali pada mulanyamanusia mengulang perbuatan-perbuatan tertentu tidaklah karena telah mengerjakannya barang sekali dua kali tetapi untuk keuntungan tertentu sampai adat tersebut terbentuk adat sendiribukanlah sumber dari perbuatan nilai adat danadedidikirawan tradisi adalah sebagai sesuatu juga diwariskan turun temurun kepada generasi mendatang dalam adedidikirawanbentuk yang sdh ready made yakni sesuatu kumpulan pengalaman-pengalaman yang berguna dan profitable dari orang-orang tua sebagai hubungan sejarah dengan masa lalu sebagai kelangsungan budaya adat adalah tiang penyokong setiap bentuk peradaban ada juga bisa merupakan penghalang kemauan setelah beberapa lama keadaan mungkin telah berubah secara radikal dan perbuatan yang dulu menguntungkan mungkin dalam keadaan baru menjadi tidak berguna dan merugikan nzmun karena tekanan kebiasaan yang kuat manusia terus menjalankan perbuatan tersebut tanpa memikirkan mengapa berbuat demikian umpamanya manusia terusmenerus mengikuti dan mentaati upacara-upacara tertentu meskipun telah lupa (tidak tahu) akan artinya tradisi dapat demikian hebat pengaruhnya sehingga orang terus sja berkeras kepala menentangkan akal sehat meskipun ia telah tahu bahwa tidak masuk akal ia tidak gisa lagi meninggalkan pola tingkah laku yang telah demikian biasa kita pernah mengadakan perbedaan antara tata caara tatatertib yang merupaakan adat istiadat semata dan adat istiadat bukan tata krama yang bukan etiquetee semata-mata tetapi yang mempunyai arti moral adat semata yakni perbuatan-perbuatan yang diulang semata adedidikirawankarena pernah dijalankan menurut penagalaman dapat dirubah meskipun sukar sejarah telah membuktikan bahwa adat    semacam itu dapat dirubah oleh lamanya waktu yang telah berjalan olehadedidikirawan suatu kekerasan yang kuat oleh propaganda yang terus menerus dan dapat dirubah dengan reduksi juga merata bahkan juga adat yang sudah berurat akar terdapat adat kebiasaan yang tidak pernah dapat dirubah makna dan bernafas adalah adat kebiasaan tetapi tidak ada orang dapat dididik kembali untuk bisa hidup tanpa keduamya bercakap-cakap dan bertukar pikiran adalah adat kebiasaan dan hanya orang sinting yang melarangnya musik dan ekperesi seni adalah adat kebiasaan hanya mental tidak beres yang mau menghancurkan secara total sebab nya adalah karena semuanya ini bukan adat semata tetapi berdasar pada tuntutan fisik mental dan emosional manusia dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa arti moralitas adalah kebetulan kesalahan dari perbuatan-perbuatan manusiawi moralitas itu objektif atau subjektif sesuai dengan sejauh tidak memperhatikan ciri pribadi dari pelaku atau sejauh memperhatikannya intrinsik atau ekstrinsik sejauh menemukan benar dam salahnya dalam adedidikirawanhakekat perbuatan atau dalam ketentuan hukum positif pernyataan ini adalh tentang moralitas objektif dan morilats ekstrensik adakah semua moralitas (kesusialaan) itu eksterensik dan konvensional ataukah beberapa moralitas itu intrinsik dan kodrati positivisme moral adalah teori yang teori yang mengatakan bahwa semua moralitas itu konvejnsional bahwa sanya tidak terdapat perbuatan yang menurut hakekatnya baik atau buruk ditunjuk tiga sumber konvensi: 1.       Adat kebiasaan pendapat iiini dipegang oleh para filsuf seperti sepencer nietzsche ccotet dan marx adat kebiasaan bisa mendapatkankekuatan hukum dan memberi moralitas ekstrensik pada jenis perbuatan yang indifferent sifatnya tetapi tidak semua moralitas dapat didasarkan pada adat kebiasaan karena sementara adat kebiasaan tidak dapat dihapuskan dan beberapa jenis perbuatan tidak pernah dapat dijadikan adat kebiasaan satu-satunya alasan untuk itu adalah bahwa perbuatan-perbuatan adedidikirawanini tidak pernah dijadikan adat kebiasaan satu-satunya alasan untuk ituadalah bahwa perbuatan-perbuatanitu baik atau buruk tidak tergantunng dari adat kebiasaan apapun juga dan adat kebiasaan bukanlah sumber semua moralitas 2.       Negara hobbes dan rosseou berkata bahwa sebelum pembentukan negara tidak terdapat moralitas moralitas adalah kekuatan (pentaatan) atau tidak ketaatan (pentaatan ) pada hukum sipil argumentasi melawan gagasan ini sama dengan yang terdapat diatas negara dapat memberikan moralitas ekstrinsik pada jenis perbuatan yang indifferent sifatnya tetapi tiada negara yang dapat sepenuhnya tidak terikat pada peraturan mengnai hukum-hukumnya terdapat perbuatan-perbuatan yang setiap negara harus memerintahkannya dan terdapat perbuatan-perbuatan yang setiap negara harus melarangnya karena kehidupan manusia sendiri menutut hal ini perbuatan-perbuatan telah bermoral atau tidak bermoral sebelum ada negara 3.       Dekrit tuhan meskipun moralitas tergantung pada kehendak tuhan juga tuhan tidak dapat sepenuhnya semau-mau dalam hal adedidikirawanyang beliau kehendaki kehendaknya tergantung pada intelleknya sedang baik intelek maupun kehendaknya tergantung pada esensinya tidak dapat berlawanan dengan dirinya sendiri oleh karena beliauadedidikirawan sendiri tidak dapat berbuat menurut cara yang berlawanan dengan esensinya yang takterbatas beliau juga tidak dapat memerintahkan atau mengidijinkan mahluknya berbuat seperti itu Beberapa perbuatan hanya mempunyai suatu moralitas ekstrinsik menurut hakekatnya indifferent menjadi baik atau buruk hanya karena seseorang yang berkuassa telah memerintahkannya atau melarangnya tetapi terdapat lain perbuatan yang mempunyai moralitas iintrinsik menurut hakekatnya perbuatan tersebut baik buruk dan tiada adat kebiasaan hukum manusiawi atau bahkan dekrit tuhan dapat membuatnya lain NORMA-NORMA MORALITAS Apa yang disebut moralitas itu sungguh ada ada beberapa perbuatan yang menurut hakekat nya indifferent yang mendapat moralitas ekstrinsik karena diperintahkan atau dilarang oleh kekuasaan yang sah tetapi ada perbuatan-perbuatan yang sungguh mempunyai moralitas intirinsik moralitas perbutan-perbuatan itu tidak didasarkan pada hal-hal yang sembarangan dan semuanya sajha baik dari adat negara malah juga tuhan tetapi berdasarkan pada hakekat perbuatan-perbuatan tersebut sendiri dan oleh karena alasan-alasan ini perbuatan-perbuatan tersebut telah menjadi adat kebisaan diantara manusia atau ditentukan oleh negara atau ditentukan oleh tuhan tugas kita selanjutnya adalah menemukan norma-norma yang bisa kita pakai untuk menntukan hakekat perbuatan-perbuatan mana perbuatan adedidikirawanyang baik mana yang buruk dan mana yang indifferent menurut hakekatnya langkah 2 yang kita tempuh adalah sebagai berikut : 1.       Apakah yang dimaksud dengan suatu norma moralitas 2.       Kemampuan manakah yang harus kita pakai untuk untuk mengukur moralitas 3.       Bagaimana membangun moralitas 4.       Apakah norma moralitas yang benar 5.       Bagaimana membuktikan bahwa ini adalah norma yang benar 6.       Apakah norma ini sesungguhnya praktis dan dekat apakah norma terhadir moralitas ARTI SUATU NORMA Norma adalah sturan standarad ukuran norma adalah sesuatu yang sudah pasti yang dapat kita pakai untuk membandingkan sesuatu lain yan g hakekatnya besar kecilnya, ukurannya kwalitasnya adalah ragu-ragu jadi norma moralitas adalah aturan standarad atau ukuran dengan mana kita bisa mengukur kebaikan atau keburukan sesuatu perbuatan haruslah sesuatu dengan mana sesuatu perbuatan (haruslah) secara positif sesuai untuk dapat disebut secara moral indifferent haruslah sesuatu yang netral terhadap ukuran tadi Suatu norma dapat dekat atau terakhir untuk mengerti beberapa panjangnya sesuatu pakai meteran tetapi bagaiimana pembuat ukuran meteran menentukan bahwa sekian panjang ituadedidikirawan satu meter dia mengukur meteterannya dngan ukuran yang resmi dipakai dan diatasnya itu tidak terdapat ketentuan lain pada umumnya suatu norma dekat adalah norma yang secara langsung dapat diterapkan  pada benda yang harus diukur norma tersebut siap dipakai norma asli atau norma terakhir adalah alasan terakhir mengapa norma dekat itu seperti kenyataannya secara teoriitis hal yangsama dapat dipakai adedidikirawanuntuk memenuhi fungsi dari kedua norma yakni dekat dan terakhir Bahwasanya harus terdapat sesuatu norma moralitas dijelas telah kita tunjukan bahwa ada beberapa perbuatan yang menurut hakekatnya buruk maka haruslah terdapat sesuatu hal yang bisa untuk menentukan mengapa yang stu demikian sedangkan lainnya begitu dan norma tersebut haruslah norma dekat artinya dapat langsung diterapkan pada perbuatan kongkrit satu-satunya macam perbuatan yang sesungguhnya ada Supaya norma sahnya dekat terjamin harus terdapat norma terakhir yang memberi dijaminan untuk menemukan sesuatu kita harus mencarinya dengan cara yang benar-benar ditempat yang benar seperti kita tidak dapat mencari adedidikirawanemas dengan jalan mendengarkannya dan mencarinya sebagai sesuatu yang tumbuh dipohon maka juga dallam usaha kita menemukan norma moralitasharus kita putuskan: 1.       Dalam mencari kemampuan mana yang harus dipakai dan 2.       Didaerah mana kemampuan tersebut harus digunakan  MORAL SENSE THEORI Adakah mempunyai kemampuan khusus untuk menemukan dan mengukur moralitas menjelang akhirabad ke 17 dan selama abad ke 18 beberapa moralitas inggris berpendapat bahwa pengertian tentang sesuatu yang moral baik dan moral buruk dikerjakan oleh kemampuan yang berbeda dari intelek atau akal budi kemampuan khusus tersebut mereka berikan nama moral insitut atau moral intuition atau moral sense Anthon ashley cooper sangat terpukau dan tertarik pada pemikiran filsaat tentang yang indah mengatakan bahwa disamping bentuk-bentuk lainnya juga terdapat keindahan moral bahwa hidup moral adalah sesungguhnya hidup juga indah The sesnse of beuty menurut pandangannya adalah a special faculty of the mind dan bilamana diterapkan pada moral beauty menjadi the  moral sense keindahan moral (moral beuty) terletak pada perimbanngan yang sebenarnya dari apa yang disebut publik danprivat afections perimbangan dari dorongan-dorongan sosial dan menghasilkan suatu hidup huga bulat dan harmonis teori ini adalah aestheticixme moral Francis hutcheson I mengembangkan pandangan as cooper dengan memisahkan moral sense dari sesthi thic sense dan moral sense berfungsi khusus yakni membedakan yang benar dari yang salah joseph butler mengambil langkah yang jelas dengan menjamakan moral sense dengan adedidikirawanconsien factuly yang berbeda dari intelek thomas reid menguraikan moral sense theory sebagai berikut: The abstract nation of moral good and ill would be of no use to direct our life if we had not the power off applying it to particular actions and determining what is morality good and what is morally ill some philosophers with  hom i agree ascribe this to an orginal power of faculty in man which they call the moral sense the moral faculty conscience……………………………………………………………… The name of the moral sense though more frequently given to conscience since lord shatesbuty and Dr. Hutcheson wrote is not new……………………………………………………………………………………. In its dignity it is with out doubt far superior to every other power of the  mind but there is this analogy between it and the external senses that as by them we have not only the original conceptions of the various qulitieas of bodies but the original judgement that this body has such a quality that such another so by our moral faculty we have both the original conceptions of right and worng in conduct of merit and demerit and the original judgement that this conduct is right that is wrong that is worng that this charactr has worth that demerit The testimony of our moral faculty like that of the external senses is the testimony of nature and we have the same reason to rely upon it Adam Smith seorang ekonom mendekati etika dari standpointnya psychologycal analisis moral faculty atau consicience adalah suatu rasa simpati yang naluri yang ia dijelaskan sebagai berikut: We either approve or disprove of our own conduct according as we feel that when place our selves in the situation of another man adedidikirawanand view it as it were wtih this eyes and from the situation we either can or cannot enter into and symphatize with thw senti ments and motives which inflluence it When i endevour to examine my own conduct when i endecour to pass sentence upon it and either to approve or condemen it it is evident that iin all such cases i devide my self as it were into two persons and that i the examiner and judge represent a different character from that other  i the person whose conduct is examined into and judged of Teori-teori tersebut semuanya menuntut adanya kemampuan juga berbeda dariadedidikirawan intelek untuk memutuskan yang benar dan salah atau fungsinya hanya itu atau menjamakannya dengan aesthetic sense atau dengan hati nurani (conscience) atau dengan sentiments of symphaty moral instuteonisme dari ralph cudrowith dan samuel clarke termasuk golongan pendapat juga semacam karena adedidikirawanmeskipun mereka mengatakan bahwa intelek adalah kemampuan yang menentukan benar atau salah tetapi menurut mereka intelek ini dalam memutuskan demikian tidaklah melalui proses pemikiran tetapi by an immediate intelectual intuition of the external fitness of things yang merupakam ekpresi dari idea-idea ilahi Kritik: tidak dibutuhkan adanya suatu kemammpuan moral khusus yang berbeda dari intelek keputusan-keputusan moral pada dasarnya bukanlah berbeda dari keputusan-keputusan lainnya karena kemampuan –kemamppuan adedidikirawanmoral tersebut kebenaran-kebenaran yang jelas dengn sendirinya atau kesimpulan hasil pemikiran dengan bertolak dari prinsip yang jelas dengna sendirinya Mengerti adalah fungsi intelek lain kemampuan yang bukan intelek bakal bisa mengerti mengapa perbuatan-perbuatan tertentu baik atau buruk adalah ganjil mengharapkan orang memakai intelek dibidang ilmu bussiness hukum dan politik tetapi tidak dibidang perbuatanya sendiri dan dalam mencapai tujuan terakhirnya Menjamakan moral sense dengan aesthetic sense tidaklah menjatuhkan soal apa-apa karena kita tidak butuh kemampuan istimewa untuk menangkap yang indah benar bahwa ada adedidikirawanapa yang disebut keindahan moral danadedidikirawan bahwa kebajikan (virtue ) indah dan kejahatan itu buruk tetapi kebenaran tersebut lebih jelas dalam abstraknya dari pda dalam konkritnya keindahan memang seharusnya memikat dan menarik tetapi moralitas dapat ada tanpa dikenal keindahan harus memberikan kesenangan tetapi moralitas tidak jarang sukar adedidikirawandan meminta pengorbanan merenungkan dengan intelek kita perlu untuk bisa menangkap keindahan suatu moral hidup Hati nurani adalah norma moralitas subjektif bukan norma moralitas objektif seperti yang akan kita lihat hati nurani bukanlah suatu kemampuan istimewa tetapi hanya nama intelek yang memutuskan moralitas atas suatu peralatan khusus yang konkrit disini dan kini keputusan hati nurani adalah kesimpulan dari suatu dylogisme yang dicapai melalui proses rasional dalam artinya yang sebenarnya rasa meskipun dalam bentuknya yang agung seperti rasa simpati tidak dapat menjadi adedidikirawanpembimbing yang dapat dipercaya untuk yang benar dan yang salah rasa terusmenerus berganti terus menerus berubah tergantung dari kondisi fisik kita dan gerak emosi kita perbuatan yang sama dapat baik atau buruk sesuai dengan yang merasakan juga bila perbuatan-perbuatan diklasifikasi menurut rasa-rasa yang biasa mereka ajukan sebagai ukuran toh harus ditentukan pula alasan-alasan objektif perasaan-perasaan tersebut biasa diajukan dan alasan objektif inilah yang akan menjadi norma Meskipun menurut pendapatnyaadedidikirawan orang bijak kita mempunyai intuisi tentang prinsip moral yang pertama tetapi prinsip-prinsip moral demikian sangat sedikit mungkin hanya satu karena tidak adaadedidikirawan proses pemikiran yang dapat dikembalikan terus menerus jelas bahwa kita tidak mempunyai intuisi langsung tentang kebaikan moral atau keburukan moral perbuatan –perbuatan konkrit yang dilaksanakan disini  dan kini apabila moralitas intuitif dan tidak perlu dibuktikan dengan argumen rasional adedidikirawanbagaimana adanya demikian banyak pendapat-pendapat yang berbeda tentang moralitas itubisa dijelaskan MEMBENTUK NORMA Kesimpulan yang dapat kita tarik ialah bahwa kemampuan yang semestinya dipakai dalam membedakan baik dan buruk adalah intelek manusia Pengikut-pengikut aristoteles kaum sotoa filsuf-filsuf abad pertengahan dan banyak filsuf modern benar dalam berkata bahwa suatu perbuatan baik apabila sesuai dengan akal yang benar pemikiran yang benar (right reason) jadi kurang lebih membuat right reason sebagai norma moralitas tetapi ini hanya menjawab separuh dari pertanyaan kemempuan mana yang harus dipakai bukan bagaimana dan dimana memakainya bagaimana kita dapat tahu bahwa sesuatu pemikiran benar logika mengajar kita bagaimana menarik kesimpulan yang benar dari premis-premis yang ada tetapi logika tidak memberi premiskepada kita lalu dimana kita mencarinya hal-hal ini dan bagaimana kita bisa mengenalnya bilamana kita telah menemukannya Suatu norma harus dibentuk dengan menguuji macamnya barang-barang yang hendak kita ukur dan menyelidiki maksud untuk apa kita harus mengukurnya barang-barang yang hendak kita ukur adalah perbuatan-perbuatan manusiawi dan maksdu kita mengukur adedidikirawanadalah untuk menentukan kebaikannya dan keburukan mengapa suatu hal disebut baik sebab hal itu adalah sesuatu tujuan pada dirinya atau suatu jalan menuju tujuan diingikan karena dirinya sendiri atau karena hal yang dituju Pada permulaan tiada satupun diantaranya yang bisa diharapkan kenyataan bahwa sesuatu hal menginginkan hanyalah menunjukan bahwa sesuatu tadi ontologis baik bukan bahwasanya sesuatu tadi moral baik setiap perbuatan yang kita kerjakan secara ontologis adalah baik sesuatu juga menjurus kearah kepuasan sesuatu keinginan tetapi harus lah kitaadedidikirawan cari ukuran lain untuk kebaikan moral persoalanya belum selesai dengan merenungkan perbuatan sebagai jalan kearah tujuan memang betul bahwa perbuatan-perbuatan manusiawi (human acts) adalah jalan menuju tujuan terakhir bahwasanya perbuatan-perbuatan tersebut baik bilamana membawa mmanusia kearah tujuan adedidikirawanterakhirnya dan buruk apabila merupakan penghalang kearah tujuan akhirnya dan kini yang kita perbincangkan adalah tentang kebaikan moral kesukarannya bagaimana kita mengetahuuinya apakah mereka membantu atau menghalangi  Andaikata dapat melihat dengan mata kepala kita sendiri orang-orang yang berhasil mencapai tujuan akhirnya dapatlah kita mengadakan penyelidikan tentang bagaimana caranya mencapai tujuan terakhir tersebut dan dapatlah jalan yang sama itu kita pakai sendiri tetapi seperti yang kita lihat banyak orang yang telah melewati masa hidupnya dan kita tidak tahu adedidikirawansiapa-siapa yang mencapai tujuan terakhirnya dan siapa-siapa yang tidak orang-orang ini juga tidak kembali lagi kedunia untuk bercerita kepada kita perbuatan mana yang ternyata merugikan jadi tidak terdapat metode langsung yang dapat kita pakai Kecuali itu bila ada hanya akan merupakan moralitas eksentrik dari pperbuatan bukan moralitas intirinsiknya yang nampak kepafdakita hanya bahwa perbuatan itu sungguh membantu ketujuan bukan mengapa perbuatan tersebut sungguh membantu kearah tujuan tidak akan menunjukan apa-apanya tentang hakekat perbuatan sendiri yang membuat perbuatan itu baik atau buruk karrena sesuatu perbuatan tidaklah baik karena justru adedidikirawanmembawa kearah tujuan tetapi lebih tepat perbuatan ini membawa ketujuan karena perbuatan tersebut adalah baik Problem yang kita hadapi dapat kita selsaikan meskipun kita hrus mengadakan pendekatan secara tidak langsung akan kita perbincangkan mengnai tiga pokok : 1.       Perbuatan manusia 2.       Tujuan manusia 3.       Hakekat manusia   1.       Perbuatan manusia kita mengerti hubungan perbuatan-perbuatan dengan tujuan perbuatan-perbuatan manusiawi karena merupakan sarana kearah tujuan terakhir adalah baik apabila membantu kita ketujuan dan buruk apabila menghalangi kitaadedidikirawan tetapi seperti juga telah dikatakan diatas kita hanya dapat mengetahuinya secara abstrak dan kita tidak adedidikirawanmmpunyai cara untuk memisahkan antara perbuatan yangmembantudan perbuata-perbuatan yang menghalangi 2.       Tujuan manusia kita juga tahu mengnai  hubungan antara tujuan dan hakekat kita mengatakan suatu benda itu untuk apa dengan melihat pada caranya bendanitu dibuat kita menemukan tujuan sesuatu benda dengan menyeldiki hakekatnya dengan cara demikianpulalah kita menemukan apakah tujuan terakhir dari manusia yakni kebahagian sempurna dalam memiliki tuhan karena keinginan adedidikirawanmanusia pada kebahagiaan sempurna tersurat dan tersirat dalam hakekat manusia Hal ini bagaimanapun juga tidak menunjukan kepada kita tentang perbuatan-perbuatan manusiawi dan tentang inilah pokok pernyataan kita 3.       Hakekat manusia kedua hubungan ini membawa kita kepada yang ketiga yakni hubungan perbuatan-perbuatan dengan hakekat apabila kebaikan dan keburukan perbuatan manusia ditentukan dalam menolong tidaknya kearah tujuan terakhir dan tujuan manusia ditentukan atas dasar penyelidikan hakekat manusia maka dapat kita tinggalkan adedidikirawanlangkah tengah dan memutuskan kebaikan atau keburukan perbuatan-perbuatan manusiawi dengan menyelidiki hakekat manusiawi prosedur ini sungguh tepat memberikan apa yang kita kehendaki mencapai meskipun tujuan terakhir tidaklah dicapai dalam hidup kini dan bukan objek dari pengalaman kita toh hakekatnya manusia dan perbuatan-perbuatan manusiawi secara langsung ada didepan kita didalam hidup ini adedidikirawan dan dapat diselediki disini dan sekarang jadi dapat kita miliki ukuran yakni kita dapat memakai hakekat untuk mengukur perbuatan-prbuatan kita maka kesimpulan kita adalah perbuatan-perbuatan manusiawi membimbing kearah tujuan terakhir manusia dan moral baik apabila sesuai dan serasi dengan hakekat manusia jadi hakekat manusia paling sadedidikirawanedikit dalam arti tertentu adalah norma morlitas  Dari uraian diatas dapat disimpulkan norma moralitas adalah  stndard kepada apa kita membandingkan perbuatan-perbuatan manusiawi guna menentukan kebaikan atau keadedidikirawan burukannya norma dekat (proxmiats norm) adalh norma adedidikirawan juga secara langsung dapat diterapkan pada perbbuatan norma terakhir (ultimate norm) adalah norma yang menjamin kesahanya norma dekat Teori moral sense menganjurkan suatu fakultas (kemampuan) yang berbeda dari intelek untuk memastikan baik atau buruk tetapi tidak perlu terdapat fakultas semacam itu karena adedidikirawan itu akan membuat perbuatan yang bernilai moral menjadi non rasionil dan jadi tidak sepantasnya bagi mehluk manusia yang rasionil Suuatu perbuatan itu baik bila selesai dengan pikiran benar (right reason ) tetappi bilamana kita bisa bilang jika pikiran itu adedidikirawan benar-benar meskipun perbuatan baik adalah perbuatan yang membo3tetapi tidak perlu terdapat fakultas semacam itu karena itu akan membuat perbuatan yang bernilai moral menjadi non rasionil dan jadi tidak sepantasnya bagi mehluk manusia yang rasionil Suuatu perbuatan itu baik bila selesai dengan pikiran benar (right reason ) tetappi bilamana kita bisa bilang jika pikiran itu benar-benar meskipun perbuatan baik adalah perbuatan yang membimbing ketujuan terakhir mereka kita tidak pernah punya pengalaman atau mendengar kesaksian orang-orang yang berhasil mencapai tujuan terakhir mereka kkita harus menggunakan adedidikirawan kodrat manusia kita sebagai jembatan oleh karenaadedidikirawan kita menemukan apa tujuan terakhir itu dengan mempelajari kodrat kita kita berkesimpulan behwa perbuatan-perbuatan yang sesuai (confermed) pada kodrat kita akan meb awa kita ketujuuan terakhir kita Maka norma moralitas adalah kodrat hakekat manusia diambil sepenuhnya dalam sluruh bagian-bagiian dan nasib-nasibnya : 1.       Bagian-bagian    : (metafisis: animalitas dan rasionalitas  (  (fisis:badan dan jiwa  (  (integral :bagian-bagian badan dan orang-orang 2.       Nisbah-nisbah : (kreturil : kepada tuhan  (sosial : kepada sesama manusia (posesif :kepada benda-benda didunia Tuhan yang menjuruskan segala sesuatu ketujuan mereka dengan melalui kodrat yang ia berikan kepada mereka juga menjuruskan manusia kearah tujuan dengan melaluiadedidikirawan kodratnya tuhan yang memberi manusia seluruh kodrat kemanusiaaan adedidikirawan dengan segala bagian-bagian dan nisbah-nisbahnya haruslah menghendaki dari manusia macam aktivitas yang memelihara harmoni yang semestinya dalam bagian-bagian dan hisbah-hisbah ini dan ini akan merupakan macam aktivitas yang baik bagi manusia (baik secara integral baik dalam arti moral maka kodrat hakekat manusia sepenuhnya adalah norma moralitas Inilah norma dekat yang benar karena tiada lain selain kodrat manusia yang bisa memenuhi fungsi-fungsi ini : 1.       Memberi aturan-aturan morallitas yang sama pada semua manusia 2.       Membberi semua atran-aturan moralitas pada setiap manusia 3.       Tidak berubah akan tetapi dapat diterapkan pada semua kehidupan 4.       Selalu hadir dan nampak pada semua manusia Norma terakhir adalah kodrat illahi sebagaimana kodrat manusia itu menyamai kodrat oillahi maka perbuatan manusia harus menyamai perbuatan illahi manusia berbuat benar adedidikirawan bila ia mengerjakakn apa yang tuhan kerjankan salah bila manusia menyalah gunakan kemerdekannya dengan mengerjakan apa yang tuhan tidak dapat mengerjakan FAKTOR PENENTUAN MORALITAS Untuk menerapkan norma moralitas pada kejadian-kejadian yang konkrit kita harus menemukan apa yang terdapat dalam perbuatan yang dapat menyebabkan perbuatan tadi sesuai atau tidak sesuai dengan norma kita ketemukan tiga macam faktor penentuan dalam moralitas : 1.       Perbuatannya sendiri 2.       Motif 3.       Keadaan Perbuatan sendiri adalah apa yang dikehendaki si pelaku memandangnya tidak dalam tertib fisis tetapi dalam tetrtib moral kita telah tunjukan bahwa terdapat perbuatan-perbuatan yang menurut  hakekekatnya mengarah motif berhubung dikehendaki dengan sadar membri saham pada moralitas dari perbutan tersebut malah kadang-kadang memberi jenis moralitas lain keadaan adalah adedidikirawan segala yang terdapat (terjadi) pada sesuatu peristiwa perbuatan sementara keadaa tidak mempunyai akibat pada moralitas sementara lain berakibat entah memberi jenis moralitas baru pada perbuatan atau memberi suatu taraf baru dalam adedidikirawan jenis yang ada keadaan bisa diketahui sebelumnya dan jika demikian dikehendaki dalam saat menghendaki perbuatan tersebut maka juga memberi saham pada moralitas perbuatan tersebut suatu perbuatan yang buruk menurut hakekatnya tidak dapat dijadikan baik atau indiferent oleh motif maupun oleh keadaan meskipun meski taraf keburukan bisa agak berubah suatu perbuatan yang menurut hakekat nya baik dihancurkan adedidikirawan oleh setiaf motif yangadedidikirawan sngat buruk atau keadaan yang sangat buruk motif atau keadaan yang sedikit buruk melemahkan kebaikan perbuatan tetapi tidak menghancurkan suatu perbuatan yang menuurut hakekatnya indifferernt mendapatkan seluruh adedidikirawan moralitasnya dari motif dan keadaan apabila dari salah satu darinya buruk perbuatannya menjadi buruk apabila sementara baik dan lainnya buruk bisa mungkin memisahkan perbuatan fisik menjadi dua perbutan moral kita beranggapan bahwa pada konkritnya tiada perbuatan yang indiferent sebab atau perbuatan tadi diarahkan atau tidak diarahkan paling sedkit secara implisit pada tujuan terakhirnya jika tidak buruk mka perbuatan tadi baik kaum adedidikirawan stoicis tidak setuju dengan pendapat ini moralitas bersemayam didalam perbuatan bathin kehendak yang tidak niscaya dilaksanakan keluar menjdai aksi luaran tetapi bila dilaksanakan keluar perbuatan bathin memberikan moralitasnya kepada aksi luaran tersebut karena adedidikirawan keduanya merupakan satu keseluruhan moral perbuatan bathin hanya dapat secara aksidentil dipengaruhi oleh perbuatan luaran

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: